MENYUSUI WUJUD CINTA KASIH IBU PADA ANAK

Foto untuk : MENYUSUI WUJUD CINTA KASIH IBU PADA ANAK

Sehubungan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, menyusui merupakan salah satu langkah pertama bagi seorang manusia untuk mendapatkan kehidupan yang sehat dan sejahtera. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui hal ini. Di beberapa negara maju dan berkembang termasuk Indonesia, banyak ibu karir yang tidak menyusui secara eksklusif. Di Indonesia hampir 9 dari 10 ibu pernah memberikan ASI, namun penelitian IDAI (Yohmi dkk, 2015) menemukan hanya 49,8 % yang memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan sesuai rekomendasi WHO. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif ini dapat berdampak pada kualitas hidup generasi penerus bangsa dan juga pada perekonomian nasional.

ASI eksklusif adalah pemberian  ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air  teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi,  dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli, 2000). Selain itu, pemberian ASI eksklusif juga berhubungan dengan tindakan memberikan ASI kepada bayi hingga berusia 6 bulan tanpa makanan dan minuman lain, kecuali sirup obat. Setelah usia  bayi 6 bulan barulah bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI, sedangkan ASI dapat diberikan sampai 2 tahun atau lebih (Prasetyono, 2005).

ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup  hampir 200 unsur zat makanan (Hubertin, 2004).

Dokter Spesialis Anak sekaligus Ketua Sentra Laktasi Indonesia Wiyarni Pambudi mengatakan, banyak kerugian yang dialami bayi karena tidak mendapatkan ASI. Di antaranya, bayi tidak akan memperoleh semua kebutuhan zat gizi di dalam ASI, seperti kalori, vitamin, mineral, dan mikro nutrient.

Lanjut Wiyarni, zat gizi lengkap dari ASI membentuk daya tahan tubuh yang kuat, sehingga kekerapan anak sakit berkurang. Mengapa anak yang tidak ASI mudah sakit? Karena kolostrum dalam ASI mengandung imunoglobin A yang membuat usus bayi dari susunan belum sempurna menjadi matang. Bila ada kuman atau agen infeksi lain yang masuk ke dalam tubuh, dengan mudah ditangkap karena permukaan usus bayi lebih matang.

Mengutip jurnal FK Unand tahun 2013 tentang Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Angka Kejadian Diare Akut pada Bayi Usia 0-1 Tahun di Puskesmas Kuranji Kota Padang didapatkan hasil bahwa kejadian diare pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Hasil ini menunjukkan bahwa bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih rentan terhadap diare.

Sekarang kita sudah mengetahui manfaat ASI eksklusif dan dampak tidak memberikan ASI ekslusif untuk si Kecil. Menyusuilah dengan keras kepala sebagai perwujudan cinta kita untuk anak. Hanya ASI yang terbaik untuk kesehatan anak.

LPSE Kabupaten Sarolangun
kemenkes
Pemprov Jambi